Jabatan Termahal
NEXT

Jabatan Termahal

Ditulis oleh Minta100

Dua belas tahun kamu membangun LajuKita dari nol.

Perusahaan itu tumbuh dari sebuah startup menjadi jaringan pembayaran, logistik, dan layanan digital yang dipakai jutaan orang. Kuartal terbaik baru saja ditutup. Investor mulai membicarakan penawaran saham. Karyawan menunggu bonus. Untuk pertama kalinya, kamu merasa hidup mulai lebih tenang.

Lalu sebuah nomor yang tidak biasa menelepon.

Presiden ingin bertemu empat mata.

Bukan untuk membicarakan regulasi perusahaanmu.

“Ini tentang negara.”

Tawaran yang diberikan hampir mustahil ditolak begitu saja: memimpin kementerian baru yang menangani pendidikan digital, layanan publik, dan transformasi data. Pemerintah membutuhkan seseorang yang pernah membangun sistem besar dari nol. Bahkan Presiden memberimu satu alasan yang terus terngiang:

kalau orang yang tahu caranya selalu menolak, jangan heran kalau keputusan akhirnya dibuat oleh orang yang tidak tahu.

Terdengar mulia.

Sampai Mira, co-founder yang membangun LajuKita bersamamu, mengingatkan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

begitu kamu menjadi pejabat, setiap keputusan bisnismu akan dianggap politik—dan setiap keputusan politikmu akan dicurigai sebagai bisnis.

Dan ia benar.

Saham yang masih kamu miliki menjadi masalah.

Menjualnya bisa dicurigai.

Tidak menjualnya juga bisa dicurigai.

Mantan investor mengirim pesan. Vendor lama muncul dalam proyek pemerintah. Pesaing perusahaanmu menjadi calon mitra kementerian. Pertemuan makan malam berubah menjadi foto politik. Memo teknis bisa menjadi berita. Satu kalimat di grup pesan bisa berubah arti bertahun-tahun kemudian.

Bahkan tanda tangan yang terasa administratif hari ini dapat diperbesar di ruang sidang pada masa depan.

Sebagai pengusaha, kamu terbiasa bertanya:

“Apakah ini bekerja?”

Sebagai pejabat, pertanyaannya bertambah:

Apakah ini sah?

Apakah prosesnya bisa dijelaskan?

Siapa yang diuntungkan?

Siapa yang mengenalmu?

Siapa yang akan mengingat percakapan ini lima tahun lagi?

Program besar mulai berjalan. Sebagian berhasil. Sebagian gagal. Kritik tumbuh. Media menyusun hubungan masa lalu menjadi bagan. Parlemen mempertanyakan konflik kepentingan. Teman lama mulai menjaga jarak. Orang-orang yang dulu memanggilmu untuk meminta bantuan perlahan berhenti menelepon ketika kursimu mulai goyah.

Lalu jabatan itu berakhir.

Kamu mengira harga yang harus dibayar sudah lunas.

Ternyata belum.

Audit berubah menjadi penyelidikan. Penyelidikan berubah menjadi pemeriksaan pidana. Dokumen bertahun-tahun lalu kembali dibuka. Mantan bawahan dipanggil. Satu kata seperti “percepat” mulai diperdebatkan maksudnya. Bahkan sebuah catatan tangan dengan satu huruf dapat memiliki bobot lebih besar daripada seratus halaman penjelasan.

Kemudian statusmu berubah.

Tersangka.

Bukan karena ditemukan amplop uang di mejamu. Bukan karena kamu tertangkap menerima suap. Yang dipersoalkan justru rangkaian keputusan, arahan percepatan, hubungan lama, proses pengadaan, dan siapa yang akhirnya memperoleh keuntungan.

Kini semua yang pernah kamu miliki mulai mempunyai harga berbeda.

Reputasi.

Perusahaan.

Persahabatan.

Keluarga.

Kebebasan.

Dan nama yang selama bertahun-tahun kamu bangun.

JABATAN TERMAHAL bukan cerita sederhana tentang pejabat baik melawan pejabat jahat. Ini cerita tentang seseorang yang masuk pemerintahan dengan keyakinan bahwa kemampuan dan niat baik cukup untuk membuat perubahan—lalu menemukan bahwa kekuasaan memiliki aturan, jejak, kepentingan, dan konsekuensi yang jauh lebih rumit daripada ruang rapat perusahaan.

Kamu akan menentukan sendiri bagaimana tokoh ini menggunakan kekuasaan, menangani konflik kepentingan, menghadapi media, memperlakukan bawahan, menjaga perusahaan yang ditinggalkannya, dan mempertanggungjawabkan keputusan ketika kursi kekuasaan itu akhirnya bukan lagi miliknya.

Karena beberapa jabatan memang tidak meminta bayaran ketika diberikan.

Tagihannya datang belakangan.

WHAT HAPPENS NEXT?

Mulai dari awal, pilih setiap keputusan, dan temukan ending yang kamu dapatkan.