Hutan Tanpa Utara
Ditulis oleh Bianzero
Regu Pijar hanya punya satu tugas sederhana: mengikuti pita merah sampai pos pembina.
Enam anak masuk ke jalur orientasi setelah hujan—Raka, Naya, Adit, Sinta, Lani, dan Faris. Mereka membawa peta, peluit, perlengkapan P3K, serta sebuah kompas kuningan tua milik kakek Faris.
Lalu pita penanda menghilang.
Kabut turun terlalu cepat. Dari dalam hutan terdengar dua tiupan peluit yang tidak termasuk sandi kegiatan mereka. Jarum kompas Faris berputar, berhenti ke arah yang seharusnya bukan utara, lalu bergetar sendiri.
Dan di lumpur ada tujuh jejak sepatu.
Padahal mereka hanya berenam.
Semakin jauh mereka mencari jalan pulang, semakin sedikit aturan dunia yang masih bekerja.
Peta menunjukkan lereng di tempat sebuah tembok berdiri. Sungai mengalir ke atas. Penanda yang mereka pasang muncul kembali di depan mereka. Suara orang yang mereka kenal memanggil dari tempat yang mustahil. Bayangan bisa berjumlah lebih banyak daripada pemiliknya.
Lalu mereka menemukan sebuah gerbang tua.
Di atasnya terukir satu angka:
1987.
Tahun yang sama dengan sebuah perkemahan lama yang pernah diikuti kakek Faris. Di bawah angka itu terdapat tujuh goresan—dan salah satunya dicoret.
Faris ternyata membawa lebih dari sekadar kompas.
Kakeknya pernah memperingatkan agar benda itu jangan pernah dibawa ke Hutan Gantar. Di bagian belakang kompas terukir inisial dan tahun 1987, sementara tanda-tanda baru di pepohonan menunjukkan bahwa sesuatu dari masa lalu mungkin belum benar-benar selesai.
Di balik kabut, mereka kemudian melihat sesuatu yang bahkan tidak tercantum di peta: sebuah labirin raksasa dari batu dan akar, tersembunyi di bawah hutan, dengan menara tanpa atap berdiri di pusatnya.
Masalahnya, labirin ini tidak diam.
Jalan dapat berpindah.
Suara dapat meniru orang yang kamu kenal.
Kompas dapat menunjuk sesuatu selain utara.
Dan keputusan yang benar lima menit lalu belum tentu masih benar sekarang.
Di antara jejak-jejak tua, sandi Morse, simpul pramuka, foto lama, peluit kuningan, dan nama seorang anak yang hilang pada tahun 1987, Regu Pijar mulai menyadari satu hal:
mungkin mereka tidak masuk ke hutan ini secara kebetulan.
Dan mungkin tujuan mereka bukan sekadar mencari jalan keluar.
Karena jauh di dalam labirin ada sebuah misteri yang sudah menunggu hampir empat puluh tahun.
Enam orang pernah pulang.
Satu orang tidak.
Sekarang enam anak kembali memasuki tempat yang sama.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Di mana utara?”
Melainkan—
siapa yang akan keluar ketika hutan akhirnya membuka jalan pulang?
Mulai dari awal, pilih setiap keputusan, dan temukan ending yang kamu dapatkan.