Grand Capitalist of Mount Hua: Legenda Rentenir Berwajah Iblis
Bab 3 : Kontrak Jiwa (dan Semen)
Bab 3 : Kontrak Jiwa (dan Semen)
Tiga jam kemudian.
Ma Kwang-soo dan pasukannya tergeletak lemas di halaman belakang. Wajah mereka tirus, mata cekung, dan jiwa mereka tampaknya sudah meninggalkan tubuh. Mereka telah mengalami neraka duniawi. Toilet kayu tua Mount Hua telah hancur berkeping-keping karena tidak kuat menampung 'ledakan tenaga dalam' dari dua lusin pendekar sekaligus.
Seok-jin berdiri di depan mereka, memegang sebuah gulungan kertas panjang yang tintanya masih basah. Di belakangnya, matahari sore menciptakan siluet yang membuat Seok-jin terlihat seperti dewa kematian yang membawa kalkulator.
"Jadi," Seok-jin memulai, suaranya renyah. "Mari kita berhitung."
Dia membuka gulungan kertas itu. Panjangnya sampai menyentuh tanah.
"Hutang pokok sekte kami: 50.000 Nyang. Saya akui itu."
Ma Kwang-soo, yang masih terengah-engah, mencoba bangkit. "Uh... jadi... kau akan bayar?"
"Tunggu dulu, Tuan Ma. Kita harus adil. Kapitalisme itu soal keadilan," potong Seok-jin. Dia menunjuk puing-puing toilet. "Kalian menghancurkan fasilitas sanitasi warisan leluhur kami. Itu situs bersejarah. Nilainya? Tak terhingga. Tapi aku diskon jadi 30.000 Nyang."
"APA?!" Ma Kwang-soo melotot. "Itu cuma gubuk kayu busuk!"
"Jangan menghina warisan budaya!" bentak Seok-jin. Dia kembali melihat kertasnya. "Llalu, biaya pencemaran lingkungan. Limbah biologis kalian meracuni tanah suci Mount Hua. Biaya pembersihan: 20.000 Nyang. Biaya sewa tempat untuk 'beristirahat': 10.000 Nyang. Biaya konsumsi teh spesial: 5.000 Nyang per cangkir."
Seok-jin menatap Ma Kwang-soo dengan tatapan kosong yang mengerikan. "Total tagihan kalian kepada kami adalah 75.000 Nyang. Setelah dipotong hutang kami 50.000 Nyang, artinya... Selamat! Iron Blood Guild sekarang berhutang 25.000 Nyang kepada Sekte Mount Hua!"
Hening.
Sangat hening.
"Kau... kau gila," desis Ma Kwang-soo. "Kau pikir kami akan membayarnya? Aku akan memenggalmu sekarang jugโ"
Ma Kwang-soo mencoba menyalurkan tenaga dalamnya, tapi perutnya kembali bergejolak hebat. Rasa sakit yang tajam membuatnya kembali tersungkur.
"Ah, aku lupa bilang," Seok-jin berjongkok di depan wajah Ma Kwang-soo, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Teh itu... penawarnya harus diminum setiap 12 jam. Jika tidak, yah, ususmu akan terus berdansa selamanya. Kau akan mati dehidrasi di atas lubang kakus."
Wajah Ma Kwang-soo berubah dari marah menjadi horor murni. Ini bukan pendekar. Ini iblis. Iblis yang sangat perhitungan.
"Apa... apa maumu?"
Seok-jin mengeluarkan tumpukan kertas kontrak lain dari balik jubahnya.
"Sederhana. Aku butuh tenaga kerja. Lihat bangunan di sana? Rusak. Jalan setapak? Hancur. Aula leluhur? Hampir rubuh. Aku butuh kontraktor handal."
Seok-jin melempar sebuah sekop berkarat ke hadapan Ma Kwang-soo. Sekop itu berdenting nyaring, suaranya lebih menakutkan daripada benturan pedang.
"Tanda tangani kontrak ini. Bekerjalah untukku selama 3 tahun tanpa gaji sebagai 'Tim Konstruksi Elit Mount Hua'. Lunasi hutang 25.000 Nyang kalian dengan keringat. Sebagai gantinya, aku beri penawar racun itu setiap hari dan makan tiga kali sehari (nasi dan garam)."
Ma Kwang-soo menatap sekop itu, lalu menatap perut anak buahnya yang kesakitan, dan terakhir menatap wajah Seok-jin yang memancarkan aura kegilaan kapitalis.
"Jika aku menolak?"
"Maka aku akan menjual kalian ke Sekte Pengemis. Kudengar mereka butuh orang-orang cacat baru untuk menarik simpati di pasar."
Tangan Ma Kwang-soo gemetar saat dia meraih kuas tinta. Harga dirinya hancur, tapi ususnya lebih penting. Dengan air mata mengalir di pipi maskulinnya, dia menandatangani kontrak perbudakan itu.
[SISTEM: Kontrak Budak Terverifikasi.]
[Misi Selesai: Mengatasi Penagih Hutang.]
[Hadiah: Blueprint 'Resort Wisata Hot Spring Mount Hua' & Skill: Cambuk Mandor (Lv.1)]
Seok-jin berdiri, merentangkan tangannya ke arah matahari terbenam. Dia tertawa.
"Kekeke... Muahahaha! Semen! Batu bata! Uang masuk! Dengar baik-baik, para budakku! Mulai besok, kita tidak berlatih pedang! Kita akan mengaduk semen! Kita akan jadikan Mount Hua sebagai destinasi wisata nomor satu di Murim! Siapa yang malas, tidak dapat jatah toilet!"
Di bawah bayang-bayang gunung, legenda tentang Pendekar Konstruksi Gila baru saja dimulai. Dan Ma Kwang-soo sadar, neraka yang sebenarnya baru saja membuka gerbangnya.