CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 31 : Kehidupan Anjing Elit (Plus Biskuit Ajaib)
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 31 : Kehidupan Anjing Elit (Plus Biskuit Ajaib)
Gue nggak pernah nyangka cita-cita gue buat hidup enak tanpa kerja bakal terwujud dengan cara sehina ini.
Gue sekarang duduk di karpet bulu macan putih (asli) di tengah ruang tamu gubuk Nenek Lampir Mei Li. Di leher gue melingkar kalung besi dingin yang ada gantungan nama: "Bo-Bo II".
"Ayo, Bo-Bo Sayang, makan dulu," Mei Li menyodorkan mangkok emas berisi butiran-butiran bulat berwarna biru. "Ini biskuit spesial. Dibuat dari campuran Ginseng Salju, Empedu Ular Es, dan... sedikit kasih sayang."
Gue ngendus. Baunya kayak obat batuk kadaluarsa.
"Nek... eh, Majikan Cantik," gue protes pelan. "Saya manusia, lambung saya butuh nasi padang, bukan kelereng beku ini."
"GUK!" Mei Li mendelik tajam. Aura dingin langsung menyelimuti ruangan. Bulu kuduk gue jadi es loli. "Bo-Bo kalau lapar gonggong, bukan ngomong."
Gue ngelirik ke pojok ruangan. Di sana, Namgung Ryong, Suster Ye-in, dan Tetua Wi lagi diiket di tiang es. Ryong mukanya merah nahan ketawa liat nasib gue.
Awas lo, Ryong. Gue doain lo keselek es batu.
Demi kelangsungan hidup (dan leher yang utuh), gue ngebuang harga diri gue ke tempat sampah.
"Guk! Guk guk!"
Mei Li tersenyum lebar, serem tapi cantik. "Anak pinter!"
Dia nyuapin butiran biru itu ke mulut gue.
Gue telen.
Rasanya pait, dingin, terus tiba-tiba NYESS! meledak di perut.
Energi dingin yang gila-gilaan langsung nyebar ke seluruh badan gue. Mata gue melotot. Jantung gue berdetak dua kali lebih cepet. Gue ngerasa... hyper.
"Wah, matanya bersinar!" Mei Li tepuk tangan. "Itu Pil Es Penambah Stamina. Satu butir setara lari keliling Tembok Besar China sepuluh kali. Habiskan!"
Dia nuangin semangkok penuh.
Mampus gue. Gue bakal overdosis energi.
Tapi anehnya, makin gue makan, badan gue makin enteng. Rasa capek abis mendaki gunung ilang. Gue ngerasa bisa kayang sambil salto.
Gue makanin terus itu pil kayak ngemil kacang garuda.
"Guk! (Lagi!)" teriak gue semangat.
Ryong di pojokan bisik-bisik ke Tetua Wi. "Kek, murid Kakek beneran jadi anjing?"
Tetua Wi geleng kepala prihatin. "Bukan. Dia sedang menyerap energi murni Lembah Hantu lewat jalur pencernaan. Bocah itu... pencernaannya terbuat dari besi rongsokan apa gimana? Orang biasa makan satu butir udah beku ususnya!"