BAB 19

Bab 19 : Mimpi Indah yang Berakhir Horor

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 19 : Mimpi Indah yang Berakhir Horor

🗓 11 Jul 2025 👁 952 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 19 : Mimpi Indah yang Berakhir Horor

Pernah nggak sih lo ngalamin momen di mana lo berharap waktu berhenti selamanya? Gue baru aja ngalamin itu.

Rasanya gue lagi tidur di kasur bulu angsa paling empuk di dunia. Udaranya sejuk, ada wangi parfum mahal yang samar-samar, dan kepala gue nyandar di sesuatu yang nyaman banget. Gue ngerasa damai. Gue yakin 100% gue udah mati dan masuk surga jalur prestasi (prestasi bikin orang kesel).

Dalam bayangan gue, di sebelah gue pasti Suster Ye-in. Bidadari Gunung Hua itu pasti lagi natap gue dengan penuh kasih sayang sambil ngusap-ngusap rambut gue yang (tumben) halus.

"Ah, Ye-in..." gumam gue sambil merem melek, tangan gue meraba-raba "pipi" di depan gue. "Kulit kamu halus banget... Pake lulur bengkoang tiap hari ya? Atau mandi susu onta?"

Pipi itu terasa hangat. Gue elus makin intens. Gue towel dikit dagunya.

"Jangan malu-malu gitu dong, Sayang. Sini cium dulu abang..."

Gue manyun-manyunin bibir, siap mendaratkan kecupan maut.

Tiba-tiba, "bidadari" gue itu bergerak. Bukan gerakan romantis, tapi gerakan kaku kayak robot karatan.

Dan suara yang keluar bukan suara lembut Ye-in, melainkan suara bariton cowok yang lagi nahan amarah level dewa.

"HAN... JIN... WOO..."

Mata gue terbuka lebar. Jreng-jreng!

Di depan muka gue—jaraknya cuma lima senti—bukan wajah cantik Ye-in.

Tapi wajah Namgung Ryong.

Mata kami bertemu. Bibir gue yang monyong masih berjarak satu inchi dari hidung mancungnya. Tangan gue masih nempel di pipinya.

Hening.

Di gua bawah tanah yang gelap gulita itu, cuma terdengar suara tetesan air dan suara hati gue yang retak seribu.

"KYAAAAA!!!" Gue teriak histeris, reflek nendang dia sekuat tenaga.

BUK!

Ryong, yang ternyata kakinya kejepit batu, nggak bisa ngehindar. Tendangan gue mendarat mulus di tulang keringnya.

"BAJINGAN!" Ryong meraung, mendorong gue sampai gue guling-guling di pasir basah. "BERANI-BERANINYA KAU MENODAI WAJAH TUAN MUDA NAMGUNG DENGAN TANGAN PENCUCI JAMBAN ITU?!"

Gue bangkit sambil ngusap dada, jantung gue mau copot. "Heh! Siapa yang mau nodai lo?! Gue kira lo Suster Ye-in! Lagian ngapain lo tidur di sebelah gue?! Jangan-jangan lo yang modus!"

"Siapa yang tidur?!" Ryong berusaha berdiri, tapi kakinya pincang. Jubah sutra birunya udah robek-robek, rambutnya yang biasa rapi sekarang kayak sarang tawon. "Kita terdampar, Bodoh! Arus sungai bawah tanah menyeret kita ke tepian ini!"

Gue melihat sekeliling. Kami ada di sebuah gua raksasa. Dindingnya bercahaya remang-remang karena lumut phosphorescent (bahasa kerennya: lumut nyala dalam gelap). Stalaktit tajem-tajem menggantung di atas kepala kayak pedang Damocles.

"Suster Ye-in mana? Tetua Wi mana?" tanya gue panik.

"Mana aku tahu!" sentak Ryong. Dia meringis memegangi kaki kanannya. "Sepertinya kita terpisah. Arus tadi memecah kita ke beberapa lorong berbeda."

Bencana.

Dari semua orang yang bisa terdampar bareng gue, kenapa harus si Pangeran Kampus yang egonya segede Gunung Tai ini? Kenapa nggak Suster Ye-in? Atau minimal Tetua Wi yang asik diajak gila-gilaan?

"Oke, oke, tenang Jin-woo," gue mensugesti diri sendiri. "Anggap aja ini ujian mental. Atau hukuman karma karena sering nyolong mangga tetangga."

Gue ngambil Pedang Baja Biru yang tergeletak di samping gue. Pedang itu masih utuh, sarungnya juga masih nempel keras.

"Minimal kita punya senter," kata gue. Gue cabut pedangnya sedikit. Cahaya biru memancar dari bilahnya, menerangi wajah Ryong yang lagi nahan sakit.

"Kakimu patah?" tanya gue, kali ini agak serius.

"Hanya terkilir," jawab Ryong ketus, gengsinya selangit. "Tulang Namgung tidak semudah itu patah."

"Yaudah, kalau gitu jalan sendiri. Gue mau cari jalan keluar."

Gue baru jalan dua langkah, Ryong ambruk lagi pas nyoba berdiri. Gedebuk.

Gue berhenti. Gue nengok ke belakang. Dia duduk di pasir, mukanya merah nahan malu dan sakit. Dia nggak minta tolong, tapi matanya... aduh, matanya kayak anak kucing persia yang dibuang majikan.

Gue ngehela napas panjang. "Sumpah, gue bakal nyesel lakuin ini."

Gue balik badan, jongkok di depan dia. "Naik."

"Apa?"

"Naik ke punggung gue, Kulkas Dua Pintu! Gue gendong! Cepetan sebelum gue berubah pikiran dan ninggalin lo jadi fosil di sini!"

"Aku tidak butuh bantuan mur—"

"BACOT! NAIK ATAU GUE CIUM BENERAN?!" ancam gue sambil monyongin bibir lagi.

Muka Ryong pucat pasi. Dengan sangat terpaksa, dan dengan harga diri yang hancur lebur, Tuan Muda Namgung Ryong akhirnya naik ke punggung Han Jin-woo si murid luar.

"Berat banget dosa lo, Ryong," keluh gue saat mulai jalan.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G